Jangan Lupa di Like Ya Sobat

×

Friday, July 19, 2013

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PEMIKIRAN FATMINA MERNISSI DAN AMINA WADUD MUHSIN TENTANG AL-QURAN, TAFSIR DAN TAKWIL

            
Pemikiran Amina Wadud Muhsin dan Fatima Mernissi tentang al-Quran, Tafsir, dan Takwil
Oleh: Fikri Noor Al Mubarok

              Pemikiran Amina Wadun Muhsin dan Fetima Mernissi memiliki beberapa persamaan. Pertama, keduanya sama-sama menafsirkan dan menakwilkan al-Quran dengan sudut pandang gender. Keduanya menafsirkan dan menakwilkan al-Quran untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang menurut mereka selama ini tertindas. Kedua, mereka sama-sama hanya menafsirkan dan menakwilkan ayat-ayat al-Quran yang berhubungan dengan gender saja. Mereka tidak membahas secara keseluruhan ayat-ayat yang terdapat dalam al-Quran. Ketiga, mereka sama-sama menyatakan bahwa al-Quran harus terus-menerus di tafsir ulang  untuk memelihara reelvansi kandungan al-Quran dengan kehidupan manusia. Menurut mereka tafsir yang ada selama ini adalah tafsir yang patriarki sehingga mereka tidak menggunakan tafsir-tafsir yang telah ada sebelumnya. Keempat, mereka sama-sama menggunakan metode tafsir hermeneutik dalam menafsirkan al-Quran.
     
     Pemikiran Amina Wadun Muhsin dan Fetima Mernissi juga memiliki beberapa perbedaan. Pertama, Fatima Mernissi cenderung lebih mendalami hadis-hadis mesogenis daripada ayat-ayat misogenis, sedangkan Amina Wadud Muhsin cenderung mendalami ayat-ayat misogenis daripada hadis-hadis misogenis. Kedua, Amina Wadud menafsirkan al-Quran tanpa merujuk pada kitab-kitab tafsir yang ada sebelumnya sedangkan Fatima mernissi cenderung masih mengutip beberapa pendapat ulama.

Komentar:


     Kedua tokoh diatas sebenarnya memilki tujuan baik dan mulia yaitu untuk meningkatkan derajat perempuan yang selama ini-menurut pengalaman hidup mereka-tertindas. Kedua tokoh diatas memiliki background hidup yang lingkungannya membatasi perempuan secara berlebihan. Seperti Fatima Mernissi yang menentang adanya hijab bagi perempuan dimana perempuan harus ditempatkan di sebuah penjara yang bernama harem dan Amina wadud yang sering mendapatkan keluhan perihal gender di organisasi yang ikuti di Amerika dimana perempuan disana kurang mendapatkan perlakuan yang adil bahkan cenderung dilecehkan. Namun, tujuan yang baik dan mulia tersebut menjadi tidak baik atau buruk dan bahkan cenderung sesat karena metodologi yang mereka pakai membuat buah pemikiran mereka terlalu berlebihan dalam meningkatkaan derajat perempuan. seperti Amina wadud yang membuahkan hasil pemikiran dengan menyatakan bahwa Imam itu bisa dari pihak laki-laki dan perempuan dan makmum laki-laki dan perempuan bisa berjajar dalam satu shaf dan saling bercampur,tidak harus laki-laki di shaf depan dan perempuan di shaf belakang. Hasil pemikiran yang seperti ini sangatlah bertentangan dengan islam dan cenderung sesat. Mungkin kita bisa mengambil sebuah pelajaran berharga dari kedua tokoh diatas bahwa ternyata tujuan yang baik dan mulia akan menjadi bomerang ketika tujuan tersebut dilakukan dengan cara yang salah. 

Yogyakarta, 7 januari 2013

(Bagi para pengunjung yang ingin menjadikan tulisan ini sebagai rujukan silakan sertakan nama penulis pada tulisan anda).

0 comments

Post a Comment